Yang Kelak akan Retak

Dito Yuwono
2009
netherlands colonialism monument
film
Proyek ini mengontekstualisasikan masa kini (yang saling bertentangan) secara mencolok dengan menggunakan potongan-potongan film bersejarah sebagai subtitel literal dalam film. Metode kolase ini menggabungkan masa lalu dan masa kini.

“Yang Kelak Akan Retak” berlabuh dengan menelusuri jejak Van Mook Lijn atau Garis Status Quo, garis demarkasi yang membagi wilayah Indonesia dan melegitimasi pemukiman Belanda tepat setelah Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1945. Upaya menelusuri kembali batas-batas historis dan mengarsipkan ruang tersebut dimulai dari Pesanggrahan Ngeksiganda, sebuah gedung di Kaliurang, Yogyakarta, yang telah digunakan sebagai tempat perjanjian pemisahan ini oleh Komisi Tiga Negara (Committee of Good Offices), yang terdiri dari Belgia (perwakilan Belanda), Australia (perwakilan Indonesia), dan AS (perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang mengarah pada Perjanjian Renville pada tahun 1948, dan melalui beberapa monumen skala kecil yang kurang dikenal atau mirip monumen yang membentang sekitar 500 kilometer dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, Indonesia, seperti: Monumen Renville (Banjarnegara, Jawa Tengah), Tugu Renville (Kebumen, Jawa Tengah) dan Garis Status Quo (Malang, Jawa Timur). Film ini melibatkan sejarawan lokal, aktivis lokal, dan pematung dari setiap situs monumen sebagai upaya untuk menekankan narasi sejarah yang dibangun dalam masyarakat setempat.

Film ini melibatkan sejarawan lokal, aktivis lokal, dan juga pematung dari setiap situs monumen sebagai upaya untuk menekankan narasi sejarah yang dibangun dalam masyarakat setempat. Film ini kemudian menjadi kontekstual karena waktunya bertepatan dengan pengakuan pemerintah Belanda atas Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 yang terjadi di awal tahun 2023. Pergeseran ini mengubah banyak narasi sejarah dan hubungan Indonesia-Belanda. Lapisan kompleksitas sejarahnya menarik minat saya di luar bentuk visualnya: khususnya konteks dan pembacaan sosial-politik-historisnya setelah lebih dari 70 tahun setelah perjanjian oleh masyarakat setempat.

Credits

Film ini merupakan bagian dari program Artist-in Residence Hotel Maria Kapel yang didukung oleh Gementee Hoorn, Mondriaan Fund, dan Prins Barnhard Het Cultuurfonds. Film ini dipresentasikan dalam Your Gold is Not Our Glory, Hoorn – Belanda (2023) yang dikuratori oleh Mira Asriningtyas, “Glued and Screwed #13”, Den Haag – Belanda 2023 yang dikuratori oleh wysiwyg, dan juga dipresentasikan dalam Festival Film Dokumenter 2023 Yogyakarta – Indonesia (2022) yang dikuratori oleh Wimo Ambala Bayang.