Idak-Idak-Idak

Proyek oleh: Kae Oktorina dan christopher tym
2024 — 2026
Dokumenter hibrida, 45 menit.

'Idak-Idak-Idak' adalah film dokumenter hibrida yang mengaitkan Harta Karun Lombok yang dicuri dengan diaspora Sasak melalui tiga generasi perempuan: seorang anak perempuan, ibunya, dan neneknya. Memadukan sinematografi spektrum penuh dengan cuplikan pribadi, film ini berpindah-pindah antara Indonesia dan Belanda untuk meneliti warisan kolonial, pengungsian, dan penyembuhan hati akan kampung halaman.

Artefak

Pada tahun 1894, pasukan kolonial Belanda menyita sejumlah besar artefak suci dan batu permata dari Dinasti Karangasem Bali di pulau Lombok selama kampanye militer yang penuh kekerasan yang menewaskan ribuan orang. Dikenal sebagai Harta Karun Lombok, artefak-artefak tersebut dibawa ke Belanda dan disimpan selama lebih dari satu abad sebelum sebagian dikembalikan ke Indonesia pada tahun 2023, sebuah pengembalian yang menimbulkan banyak pertanyaan sekaligus jawaban.

Berasal dari Bali, disita dari Lombok, disimpan di Belanda, dan dikembalikan ke Jakarta: perjalanan artefak-artefak ini adalah perjalanan perpindahan, kepemilikan yang diperebutkan, dan sejarah tanpa penyelesaian yang jelas. Bagi komunitas tempat artefak-artefak itu diambil, artefak-artefak tersebut bukan hanya artefak tetapi juga simbol aktif identitas, ingatan, dan kekuatan leluhur. Asal-usulnya kompleks dan diperebutkan, baik sebagai entitas pemujaan maupun rampasan pertumpahan darah, yang membentang di sepanjang sejarah perdagangan dan kekaisaran di seluruh Indonesia dan sekitarnya.

Pilihan harta karun lombok

Kolaborasi

Kami mendekati artefak-artefak ini bukan sebagai peninggalan sejarah yang menunggu restitusi institusional, tetapi sebagai saksi hidup, sebagai entitas yang telah menyerap berabad-abad perpindahan, ingatan, dan transformasi budaya. Pertanyaan yang mendorong kami bukanlah bagaimana mengembalikannya, tetapi apa yang terkandung di dalamnya, dan untuk siapa.

Untuk menghasilkan narasi film ini, kami mengadakan lokakarya di Bandung dan Den Haag, mengundang komunitas diaspora Indonesia untuk menghayati perspektif batu permata dari Harta Karun Lombok sebagai perwakilan dari pengalaman mereka sendiri tentang perpindahan dan pergerakan. Dari lokakarya ini, kami membuat naskah untuk tiga perempuan dari keluarga yang sama, seorang nenek di Lombok, putrinya, dan cucunya di Belanda, sebagai padanan manusia dari perjalanan batu-batu tersebut. Terpisah lintas generasi dan geografi, membawa kenangan warisan yang semakin sulit untuk dipertahankan semakin jauh mereka melakukan perjalanan dari asalnya, mereka menjadi cara untuk membuat pengalaman diaspora dari artefak-artefak ini dapat dipahami.

Kami memilih untuk menggunakan sinematografi spektrum penuh untuk pengambilan gambar film ini, melihat melampaui spektrum tampak ke ultraviolet dan inframerah, membayangkan bagaimana batu-batu ini dapat merasakan dan menafsirkan dunia. Kami juga memilih untuk menggabungkan rekaman tersebut dengan rekaman handycam pribadi yang diambil di Lombok bersama dengan animasi batu permata, menciptakan bahasa sinematik hibrida untuk bergerak antara sejarah, puisi, dan spekulasi.

Hasil

Idak-Idak-Idak menjadi film yang kurang berfokus pada pengembalian fisik Harta Karun Lombok dan lebih pada dampak emosional, budaya, dan generasi dari kehilangan tersebut. Dalam bahasa Sasak, "Idak" dapat diartikan sebagai "hati" dan "ketidakhadiran", menjadi wadah bagi ingatan, kehilangan, dan lapisan diri yang tak terlihat di antara generasi. Kami memilih untuk berfokus pada tiga perempuan dari keluarga yang sama, seorang nenek di Lombok, putrinya, dan cucunya di Belanda, karena kehidupan mereka yang terpisah di dua negara mencerminkan perjalanan artefak yang terfragmentasi itu sendiri. Seperti batu-batu itu, mereka membawa sejarah yang tidak terselesaikan dengan rapi di perbatasan, dan seperti batu-batu itu, rasa kepemilikan mereka dibentuk oleh pergerakan, perpisahan, dan apa yang hilang atau berubah dalam perjalanan. Melalui suara mereka, film ini menggunakan objektivitas untuk berbicara tentang penentuan nasib sendiri, di mana artefak menjadi cermin emosional, bukan bukti sejarah.

Idak-Idak-Idak tidak berupaya untuk menyelesaikan pertanyaan tentang pengembalian. Karya ini menata ulang perspektif, menggeser fokus dari repatriasi ke rematriasi dan mengajak penonton untuk merenungkan kompleksitas warisan, dislokasi, dan ingatan. Artefak-artefak ini adalah portal, yang mengungkapkan kebenaran emosional yang tetap ada hingga saat ini dan masih membentuk kehidupan generasi dalam keluarga kontemporer yang masih bernegosiasi tentang apa artinya menjadi bagian dari suatu kelompok.

Seniman

Kae Oktorina

Kae Oktorina adalah seniman media yang karya-karyanya mengeksplorasi hubungan antara manusia dan alam, persepsi sensorik, serta memori budaya. Karyanya sering melibatkan video, animasi, dan media eksperimental untuk menciptakan pengalaman imersif yang mempertanyakan cara kita menghuni lanskap—secara fisik, emosional, dan historis. Meskipun proyek-proyek sebelumnya berfokus pada narasi lingkungan dan pertentangan antara dunia alam dan buatan, dalam Warne Mata, Kae mengalihkan perhatiannya pada sejarah: khususnya, bagaimana warisan kolonialisme terus membentuk identitas, memori, dan rasa memiliki. Meskipun ia tidak memiliki pengalaman sebelumnya dengan sinematografi spektrum penuh, ia mengadopsi teknik ini karena kemampuannya untuk mengungkapkan lapisan-lapisan realitas yang tak terlihat—seperti halnya cerita-cerita tersembunyi di dalam batu permata itu sendiri.

christopher tym

Christopher Tym adalah seorang seniman dan pembuat film yang praktiknya mengeksplorasi hibriditas, persepsi, dan kompleksitas dalam menavigasi dunia virtual dan fisik. Karyanya sering kali mengaburkan batas antara dokumenter dan fiksi, menggabungkan penyuntingan emosional, desain suara berlapis, dan struktur naratif spekulatif. Dengan latar belakang dalam animasi dan film eksperimental, Christopher khususnya tertarik pada bagaimana storytelling dapat menantang waktu linier dan perspektif yang kaku—terutama dalam kaitannya dengan ekosentrisme dan identitas diaspora. Dalam Warne Mata, Christopher membawa visi editorial yang kuat dan kejelasan konseptual, membantu membentuk narasi non-linear dan polifonik yang memberi suara pada baik manusia maupun objek. Meskipun baru dalam sinematografi spektrum penuh, ia mendekatinya sebagai alat bercerita, menggunakan warna sebagai perangkat struktural dan emosional—menggambar paralel visual antara sifat spektral batu permata dan pengalaman berlapis perpindahan. Pendekatannya yang kolaboratif dan didorong oleh riset sangat penting dalam membangun bahasa sinematik yang dapat menyeimbangkan aksesibilitas dan kompleksitas dengan penuh perhatian.