Untuk Beyond Provenance ini, dipilih tiga artefak yang masing-masing memiliki nilai dan "kegunaan" yang berbeda. Artefak-artefak tersebut dijarah oleh Belanda dan baru-baru ini dikembalikan dari Belanda ke Indonesia. Untuk setiap artefak, dibentuk sebuah tim yang terdiri dari dua orang dan mereka didukung untuk membuat film tentang artefak tersebut. Dengan masing-masing tim terdiri dari seorang seniman Indonesia dan seorang seniman yang berbasis di Belanda, tiga film yang sangat berbeda dan imajinatif pun tercipta: Sharp Objects tentang Keris Klungkung (belati), The Stone That Remembers tentang Durga Mahisasuramardini (patung), dan Idak-Idak-Idak tentang Harta karun Lombok (berbagai perlengkapan, benda, pusaka, dan batu permata).

Sharp Objects
Dari narasi penjarahan hingga ke industri pariwisata modern di Bali, proyek ini merunut narasi yang terabaikan seputar keris Klungkung sejak dari muasalnya hingga ke dampak poskolonial yang relevan pada Bali hari ini. Film ini menyandingkan pengetahuan yang dicatat oleh arsip kolonial dengan pengetahuan dan mitos yang berkembang di komunitas, untuk mendedah pemahaman akan narasi yang lestari, mati, dan juga hilang.
The Stone That Remembers
Film ini menceritakan perjalanan patung Durga dari kawasan Singosari, yang secara paksa dipindahkan oleh kolonial Belanda untuk dijadikan patung taman dan koleksi antik, hingga akhirnya berhasil kembali ke Indonesia dan terlahir kembali sebagai seorang wanita. Film ini menggambarkan perbandingan antara pemindahan paksa artefak ini dengan bagaimana perempuan telah mengalami kekuatan serupa sepanjang sejarah.
Idak-Idak-Idak
'Idak-Idak-Idak' adalah film dokumenter hibrida yang mengaitkan Harta Karun Lombok yang dicuri dengan diaspora Sasak melalui tiga generasi perempuan: seorang anak perempuan, ibunya, dan neneknya. Memadukan sinematografi spektrum penuh dengan cuplikan pribadi, film ini berpindah-pindah antara Indonesia dan Belanda untuk meneliti warisan kolonial, pengungsian, dan penyembuhan hati akan kampung halaman.