Lombok Treasure
'Idak-Idak-Idak' adalah film dokumenter hibrid yang menghubungkan Harta Karun Lombok dengan diaspora masyarakat Sasak melalui tiga generasi: seorang anak perempuan, ibunya, dan neneknya. Menggabungkan visual dari sinematografi "full-spectrum" dengan rekaman pribadi menggunakan "handycam", film ini bergerak antara Indonesia dan Belanda untuk menelusuri warisan kolonial, keterasingan, serta proses penyembuhan hati dan pencarian rumah. "Idak" dapat dimaknai sebagai hati sekaligus ketiadaan, yang menjadi wadah bagi ingatan, kehilangan, dan lapisan diri yang tak terlihat.
Artefak
Benda-benda pusaka utama dalam Idak-Idak-Idak merupakan bagian dari Koleksi Harta Karun Lombok, sebuah koleksi besar yang terdiri dari perlengkapan kerajaan, benda-benda suci, warisan keluarga, dan permata yang disita oleh tentara kolonial Belanda selama invasi Lombok pada tahun 1894. Benda-benda ini dijarah dari istana Dinasti Karangasem Bali di Mataram selama kampanye militer brutal yang mengakibatkan kematian massal dan pengungsian. Setelah dibawa ke Belanda sebagai jarahan kolonial, harta karun ini tersebar di berbagai institusi, museum, dan koleksi pribadi, di mana banyak di antaranya masih berada hingga kini.
Lombok Treasures mewakili lebih dari sekadar kekayaan material—mereka melambangkan otoritas spiritual, garis keturunan budaya, dan kedaulatan politik kerajaan yang pernah merdeka. Bagi komunitas yang harta karun ini diambil darinya, mereka bukan sekadar “benda,” tetapi simbol aktif identitas, memori, dan kekuatan leluhur. Beberapa harta karun, termasuk keris upacara (pisau belati), perhiasan emas, dan batu suci, digunakan dalam ritual dan kehidupan istana, menghubungkannya dengan kosmologi yang lebih luas yang terganggu akibat pengambilan paksa mereka.
Meskipun ada upaya restitusi baru-baru ini, asal-usul banyak benda ini tetap tidak pasti. Ada celah dalam dokumentasi, benda-benda yang hilang, dan narasi yang bertentangan tentang kepemilikan, legitimasi, dan pengembalian. Ketidakpastian ini—apa yang diketahui, apa yang tersembunyi, dan apa yang terlupakan—menciptakan ruang untuk intervensi artistik.
Warne Mata dimulai dari ruang itu: bukan dengan katalog benda-benda, tetapi dengan sisa-sisa emosional dan budaya yang mereka tinggalkan. Dengan membayangkan batu permata sebagai narator yang sadar, dan melacak gema mereka melalui kehidupan seorang nenek dan cucu yang terpisah antara Indonesia dan Belanda, film ini mengembalikan kisah-kisah manusia yang sering dihapus oleh arsip kolonial. Proses artistik kami berpindah dari fakta sejarah ke narasi spekulatif, bertanya apa artinya bagi sesuatu—baik itu artefak atau manusia—untuk diambil, dipindahkan, dan didefinisikan ulang sepanjang waktu.
Kolaborasi
Kami memandang artefak ini—Khas Lombok—bukan sekadar sebagai objek bersejarah, melainkan sebagai saksi hidup atas berabad-abad pengungsian, memori, dan transformasi budaya. Alih-alih berfokus pada restitusi institusional, kami lebih tertarik pada bobot emosional dan simbolis yang masih dikandung oleh khas-khas ini. Asal-usulnya sebagian terdokumentasi, sebagian terlupakan, dan terkadang sama sekali tidak dapat diketahui—banyak batu permata bahkan mungkin bukan asli Indonesia, yang mengisyaratkan sejarah perdagangan, kekaisaran, dan pergerakan yang membentang di Asia Selatan dan Tenggara.
Tak satu pun dari kami sebelumnya bekerja dengan sinematografi spektrum penuh, tetapi kami memilih untuk mempelajari dan mengadopsi metode ini khusus untuk Idak-Idak-Idak. Teknologi ini memungkinkan kami melihat melampaui spektrum kasat mata—ke dalam ultraviolet dan inframerah—yang mencerminkan bagaimana batu-batu ini dapat "melihat" dan menyerap dunia. Kami terpesona oleh gagasan bahwa warna, seperti pada batu permata itu sendiri, dapat membawa bobot naratif. Menggunakan metode ini menjadi cara untuk membuat sejarah yang tak kasat mata menjadi kasat mata, untuk mewujudkan kehadiran spektral dari hal-hal yang tetap tak terucapkan atau hilang.
Kae membawa latar belakangnya di bidang media baru dan memori budaya untuk mengaitkan film ini dengan pengalaman hidup dan leluhur orang Indonesia, sementara Christopher menyumbangkan struktur naratif, kepekaan penyuntingan, dan bahasa sinematik hibrida yang memungkinkan film ini bergerak di antara sejarah, spekulasi, dan puitis.
Alih-alih mencoba "memecahkan" misteri artefak, kami menggunakan pendekatan kami yang berbeda—dan bahasa visual baru yang kami kembangkan bersama—untuk menciptakan sebuah film yang memperlakukan batu permata sebagai narator yang berakal. Kolaborasi kami mencerminkan gerakan diaspora dan keterkaitan lintas budaya yang menjadi inti film ini. Bersama-sama, kami memandang artefak ini bukan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai lensa untuk membayangkan masa depan yang baru.
Seniman
Kae Oktorina
Kae Oktorina adalah seniman media yang karya-karyanya mengeksplorasi hubungan antara manusia dan alam, persepsi sensorik, serta memori budaya. Karyanya sering melibatkan video, animasi, dan media eksperimental untuk menciptakan pengalaman imersif yang mempertanyakan cara kita menghuni lanskap—secara fisik, emosional, dan historis. Meskipun proyek-proyek sebelumnya berfokus pada narasi lingkungan dan pertentangan antara dunia alam dan buatan, dalam Warne Mata, Kae mengalihkan perhatiannya pada sejarah: khususnya, bagaimana warisan kolonialisme terus membentuk identitas, memori, dan rasa memiliki. Meskipun ia tidak memiliki pengalaman sebelumnya dengan sinematografi spektrum penuh, ia mengadopsi teknik ini karena kemampuannya untuk mengungkapkan lapisan-lapisan realitas yang tak terlihat—seperti halnya cerita-cerita tersembunyi di dalam batu permata itu sendiri.
christopher tym
Christopher Tym adalah seorang seniman dan pembuat film yang praktiknya mengeksplorasi hibriditas, persepsi, dan kompleksitas dalam menavigasi dunia virtual dan fisik. Karyanya sering kali mengaburkan batas antara dokumenter dan fiksi, menggabungkan penyuntingan emosional, desain suara berlapis, dan struktur naratif spekulatif. Dengan latar belakang dalam animasi dan film eksperimental, Christopher khususnya tertarik pada bagaimana storytelling dapat menantang waktu linier dan perspektif yang kaku—terutama dalam kaitannya dengan ekosentrisme dan identitas diaspora. Dalam Warne Mata, Christopher membawa visi editorial yang kuat dan kejelasan konseptual, membantu membentuk narasi non-linear dan polifonik yang memberi suara pada baik manusia maupun objek. Meskipun baru dalam sinematografi spektrum penuh, ia mendekatinya sebagai alat bercerita, menggunakan warna sebagai perangkat struktural dan emosional—menggambar paralel visual antara sifat spektral batu permata dan pengalaman berlapis perpindahan. Pendekatannya yang kolaboratif dan didorong oleh riset sangat penting dalam membangun bahasa sinematik yang dapat menyeimbangkan aksesibilitas dan kompleksitas dengan penuh perhatian.
Hasil
Idak-Idak-Idak menjadi film yang tidak terlalu tentang kembalinya harta karun Lombok secara fisik dan lebih banyak tentang dampak emosional, budaya, dan generasi dari kehilangan mereka. Meskipun dimulai sebagai penyelidikan sejarah tentang artefak yang dijarah—benda-benda suci dan batu permata yang diambil oleh Belanda pada tahun 1894—itu berkembang menjadi refleksi sensorial, puitis tentang perpindahan dan ingatan. Asal-usul batu permata yang tidak pasti, beberapa mungkin berasal dari luar Indonesia, membuka ruang untuk membayangkan perspektif mereka: apa yang mereka saksikan, apa yang mereka ingat. Diceritakan melalui suara seorang Nenek di Lombok, putrinya dan cucunya di Belanda, film ini membawa lensa manusia ke perdebatan seputar restitusi. Pengalaman mereka menggemakan warisan kolonialisme yang retak, di mana identitas dan kepemilikan dinegosiasikan lintas waktu dan tempat. Artefak menjadi cermin emosional, bukan hanya bukti sejarah.
Pada akhirnya, Idak-Idak-Idak bukan tentang memecahkan masalah kembali. Ini tentang membingkai ulang—mengundang pemirsa untuk memikirkan kompleksitas warisan, dislokasi, dan ingatan. Melalui kolaborasi lintas budaya dan penceritaan polifonik, film ini menata ulang asal usul dengan mengalihkan fokus dari "repatriasi" ke "rematriasi" dan mengeksplorasi kompleksitas penyembuhan antar generasi yang telah merasakan dampak trauma kolonial. Artefak ini menjadi portal, bukan piala—mengungkapkan kebenaran emosional yang tersisa lama setelah objek fisik diambil dan diproyeksikan ke masa depan yang lebih penuh harapan dan penuh kasih.